Bilik Pajak
Wednesday, April 15, 2015
Kemana Saya Harus Melaporkan SPT Saya?
Kemana Saya Harus Melaporkan SPT Saya? Pertanyaan ini pasti sering muncul bagi wajib pajak yang baru terdaftar. Jawaban yang mungkin sering terbersit dalam benak kita ketika kita baru saja terdaftar sebagai wajib pajak, ya tentunya ke kantor pelayanan pajak. Dan jawaban tersebut adalah tepat adanya. Namun sebenarnya ada tempat atau cara lain yang dapat kita tempuh selain kantor pelayanan pajak kita terdaftar. Dengan tujuan untuk mempermudah wajib pajak dalam melaporkan SPTnya, maka Direktorat Jenderal Pajak memberikan opsi tempat atau cara lain dalam pelaporan SPT.
Dengan merujuk pada Pasal 8 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 243/PMK.03/2014 dan Pasal 2 ayat (1) Per-29/PJ/2014, maka saya coba buat ringkasannya sebagai berikut:
Tempat/cara menyampaikan SPT:
1. Secara langsung, dimana kita datang sendiri maupun diwakilkan orang lain untuk menyerahkan SPT kita secara langsung ke petugas yang sedang berjaga, meliputi:
a. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dan Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP)
b. Tempat lain (biasanya terletak di pusat-pusat keramaian), antara lain:
· Pojok Pajak
· Drop Box
· Mobil Pajak
2. Melalui kantor pos untuk dikirimkan ke kpp tempat kita terdaftar, dimana Bukti Penerimaan Suratnya (BPS) adalah resi pos.
3. Melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir untuk dikirimkan ke kpp tempat kita terdaftar, dimana Bukti Penerimaan Suratnya (BPS) adalah bukti pengiriman surat.
4. e-Filing, yakni pelaporan SPT secara online. Cara ini masih terbatas untuk jenis SPT 1770 S dan 1770 SS
Nah, dengan cara-cara tersebut maka kita tidak perlu lagi harus datang langsung ke kpp tempat kita terdaftar untuk melaporkan SPT kita terlebih jika kpp tempat kita terdaftar berada jauh dari tempat tinggal atau kantor kita. Jadi ketika ada orang lain khususnya wajib pajak baru yang bertanya kemana saya harus melaporkan SPT saya? Tentunya kita kita sudah bisa berikan jawabannya.
Jadi bisa menghemat waktu dan tenaga.
Namun untuk kondisi-kondisi tertentu, maka kita diharuskan menyampaikan SPT kita secara langsung ke kpp tempat kita terdaftar. Adapun kondisi-kondisi tersebut antara lain:
1. SPT Tahunan lebih bayar;
2. SPT Tahunan pembetulan;
3. SPT Tahunan yang disampaikan setelah batas waktu penyampaian SPT;
4. SPT Tahunan dalam bentuk e-SPT; dan/atau
5. SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan
Demikian.
Semoga bermanfaat.
Tuesday, April 14, 2015
Batas Waktu Penyetoran dan Pelaporan SPT
Batas Waktu Pelaporan SPT merupakan hal yang penting untuk diketahui oleh wajib pajak. Salah satu kewajiban yang timbul
ketika kita terdaftar sebagai wajib pajak (memiliki NPWP) adalah melaporkan
Surat Pemberitahuan (SPT), baik SPT masa maupun SPT tahunan (tergantung dari
kewajiban perpajakan yang timbul/yang kita miliki). Apabila terdapat pajak yang
masih harus dibayar, maka harus disetorkan terlebih dahulu sebelum melaporkan
SPT.
Berikut akan disajikan resume batas
waktu penyetoran dan pelaporan SPT:
A. SPT
Tahunan
Jenis SPT
|
Batas Waktu Penyetoran
|
Dasar Hukum
|
Batas Waktu Pelaporan
|
Dasar Hukum
|
SPT PPh Orang Pribadi
|
sebelum SPT disampaikan tetapi
tidak melebihi batas waktu penyampaian SPT Tahunan
|
Pasal 9 ayat (2) UU No 28/2007,
Pasal 3 PMK 242/2014
|
paling lama 3 (tiga) bulan
setelah akhir Tahun Pajak
|
Pasal 3 ayat (3) UU No 28/2007
|
SPT PPh Badan
|
paling lama 4 (empat) bulan setelah
akhir Tahun Pajak.
|
B. SPT
Masa
Jenis SPT
|
Batas Waktu Penyetoran
|
Dasar Hukum
|
Batas Waktu Pelaporan
|
Dasar Hukum
|
PPh Pasal 4 ayat (2) yang dipotong oleh Pemotong PPh
|
paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa
Pajak berakhir
|
Pasal 9 ayat (1) UU No 28/2007 dan Pasal 2 PMK
NOMOR 242/PMK.03/2014
|
paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.
|
Pasal 10 dan pasal 11 PMK NOMOR
243/PMK.03/2014
|
PPh Pasal 4 ayat (2) yang harus dibayar sendiri
|
paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah
Masa Pajak berakhir
|
paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.
|
||
PPh Pasal 4 ayat (2) atas penghasilan dari pengalihan hak atas
tanah dan/atau bangunan yang dipotong/dipungut atau yang harus dibayar sendiri
oleh Wajib Pajak
|
sebelum akta, keputusan, perjanjian, kesepakatan atau risalah
lelang atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan ditandatangani oleh
pejabat yang berwenang.
|
paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.
|
||
PPh Pasal 15 yang dipotong oleh Pemotong PPh
|
paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa
Pajak berakhir
|
paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.
|
||
PPh Pasal 15 yang harus dibayar sendiri
|
paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah
Masa Pajak berakhir.
|
paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.
|
||
PPh Pasal 21/26 yang dipotong oleh Pemotong PPh
|
paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak
berakhir.
|
paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.
|
||
PPh Pasal 23/26 yang dipotong oleh Pemotong PPh
|
paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa
Pajak berakhir
|
paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.
|
||
PPh Pasal 25
|
paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah
Masa Pajak berakhir
|
paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.
|
||
PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor
|
harus dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran Bea Masuk dan
dalam hal Bea Masuk ditunda atau dibebaskan, PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan
PPnBM atas impor harus dilunasi pada saat penyelesaian dokumen pemberitahuan
pabean impor.
|
|||
PPh Pasal 22, PPN atau PPN dan PPnBM atas impor yang dipungut
oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
|
harus disetor dalam jangka waktu 1 (satu) hari kerja setelah
dilakukan pemungutan pajak
|
paling lama pada hari kerja terakhir minggu berikutnya
|
||
PPh Pasal 22 yang pemungutannya dilakukan oleh kuasa pengguna
anggaran atau pejabat penanda tangan Surat Perintah Membayar sebagai Pemungut
PPh Pasal 22
|
pada hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran kepada
Pengusaha Kena Pajak rekanan pemerintah melalui Kantor Pelayanan
Perbendaharaan Negara.
|
|||
PPh Pasal 22 yang dipungut oleh Bendahara Pengeluaran
|
paling lama 7 (tujuh) hari setelah tanggal pelaksanaan
pembayaran atas penyerahan barang yang dibiayai dari belanja Negara atau
belanja Daerah
|
paling lama 14 (empat belas) hari setelah Masa Pajak berakhir.
|
||
PPh Pasal 22 yang pemungutannya dilakukan oleh Wajib Pajak badan
tertentu sebagai Pemungut
|
paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa
Pajak berakhir
|
paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.
|
||
PPN atau PPN dan PPnBM
|
paling lama akhir bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir
dan sebelum SPT Masa PPN disampaikan
|
paling lama akhir bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
|
||
PPN yang terutang atas pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak
berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean
|
paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah
saat terutangnya pajak
|
paling lama akhir bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
|
||
PPN yang terutang atas kegiatan membangun sendiri
|
paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah
Masa Pajak berakhir
|
paling lama akhir bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
|
||
PPN atau PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh Pejabat
Penandatangan Surat Perintah Membayar sebagai Pemungut PPN
|
pada hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran kepada
Pengusaha Kena Pajak Rekanan Pemerintah
|
|||
PPN atau PPN dan PPnBM yang dipungut oleh Bendahara Pengeluaran
sebagai Pemungut PPN
|
paling lama 7 (tujuh) hari setelah tanggal pelaksanaan
pembayaran kepada Pengusaha Kena Pajak Rekanan
|
paling lama akhir bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
|
||
PPN atau PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh
Pemungut PPN yang ditunjuk selain Bendahara Pemerintah
|
paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah
Masa Pajak berakhir
|
paling lama akhir bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
|
||
PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak dengan kriteria tertentu
|
paling lama pada akhir Masa Pajak terakhir
|
paling lama 20 (dua puluh) hari setelah berakhirnya Masa Pajak
terakhir
|
||
Pembayaran masa selain PPh Pasal 25 bagi Wajib Pajak dengan
kriteria tertentu
|
paling lama sesuai dengan batas waktu untuk masing-masing jenis
pajak.
|
paling lama 20 (dua puluh) hari setelah berakhirnya Masa Pajak
terakhir
|
Subscribe to:
Posts (Atom)